Siang hari di hutan valver
(sudut pandang dari wandi berakhir dan diganti dgn sudut pandang dari David)
liburan semester 1 di akademi cora
aku pergi ke hutan valver dgn santai, dan duduk di pohon terdekatnya seperti biasa aku merokok lagi (berhubung nanti kena marah sama dewan archon, jadi aku merokok di luar)
tiba tiba.....
KEJEDUT!!!!!!!!
black out seketika
beberapa jam kemudian,
"dimana ini??" tanya aku
"dirumah aku, tadi u pingsan gara gara ada batu yang jatoh dari pohonya (emangnya bisa?)" ujar wanita yang beraura archon itu
"ooo, kirain tdi apa yang jatoh, ternyata batu" jawab aku sambil cari cari kotak rokok aku
"ini maksukmu?" tanya archon itu dengan memperlihatkan rokok dan mancis aku
"aaaaaaaa, gawat, diguruin deh, kepsek lagi "pikirku sambil berpikir mengalihkan pembicaraan
"kamu tau gak? cewek itu gak suka cowok merokok, kenapa u malah merokok pulak n ^&$%^#$&*()*^&%$#@!#$%^&*()(*&*(&^$%%#%^*&^)(*)_(*^&%$%@%^Y%^*(&)*_(*&^%......" begitulah archon itu menceramahi aku
"udah udah, aku salah" aku berkata seperti itu dgn wajah guilty
"rokok sama pemantik ini aku sita, udah tidur sana, tar kalo udh baekan baru u pulang" kata archon itu
"wah wah , masi remaja udah merokok" pikir grazier itu
akupun tertidur karena suasana disini tenang sekali, bahkan empuk bantalnya. tapi.... aku mencium bau cewek disini , en ini bukan bau archon, biasa archon bakal ilangin bau nya. jangan"......
tok tok tok tok tok tok tok! "ngapain lu tidur di tempat tidur aku?" tanya gadis yang perna ditemui olehku saat di crag mine waktu itu
aku menlihat dia yang memakai piyama , dan .... dia membawa palu
"aaaaaaaa.... sakit sakit sakit!!!" aku merasa sakit di kepalaku, jangan jangan dia
flash back
"oi itu santapanku" ujar david dgn wajah siap siap menerka
"diam lu! itu cewenya wandi tolol" ketus Revan sambil megetuk kepala dia dengan tongkat nya
"udah udah jgn basa basi lagi, di depan itu warp ke anacade, kita pencar disini " bisik ku kepada mereka
"roger" ujar mereka berdua
flash back end
"eh, dia gallerina. ceweknya wandi" gumam aku
"kalo dia cowok aku emangnya masalah bwt lu?" tanya gallerina dgn mata membunuh dan siap siap memalu dgn palu mainan dia (yup, palu mainan berbentuk guling)
"gawat, tajam kali telinga dia, w gumam aja dia bisa dnger" pikir aku dgn ketakutan
"udh keluar sana, cowok aku yg boleh tidur di ranjang gwa!!!!" teriak gallerina sampai kedengaran ibu nya yang seorang archon
"knapa lagi nak, kok ribut?" tanya ibu yang memakai celemek itu
"mi, kok dia tidur di ranjang aku????" tanya gallerina dgn manja
"then? mami mau ga mau tmpatin dia disini loh, archon itu tak bole sisain jejak apapun di kediamannya (tuh bener kan)" kata archon yang menjadi ibu yang lagi masak
"iya juga ya, ... kok david bukan wandiiiiiiiiiiii?" kecewa si gallerina
"ya namanya juga nasib ga bisa ditebak, tadi palanya pecah loh, ga kasian sama dia??" tanya Bu vina, archon itu sambil menunjuk ke kepala gw yang dibalut
"ya.... kasian juga, mampus lu. sapa suruh lu lasak" kata gallerina sambil menatap rokok dan pemantik di dekat ranjang dia
"iya iya, ampun deh, diguruin ibu-anak" guman aku
"sepertinya luka kamu udah g berdarah darah lagi itu, rina bawa pulang dia . tapi cepat pulang ya biar makan bareng kita" kata wanita paruh baya itu dgn wajah meyakinkan
"iya mi" angguk si gallerina sambil membawa aku keluar
sesampai di perjalanan
"eh aku lupa ganti baju... gimana ya"... kata gallerina sambil menyadari kalau dia memakai piyama , bukan armor
"udah, nanti aku lindungin" aku meyakinkan dia biar aku bisa godain dia,
"yuk ke pantai crimson" aku mengajak dia
sesampai disana
aku pergi ke suatu tempat, dimana tempat gallerina gagal menembak wandi yang membuat dia nangis seharian (tapi ujungnya diterima kok pas di RS)
aku sampai skrng masi menlihat, diantara segerombolan ABA, ada batu yang diukir lnsg sama gallerina pakai batu yang bertuliskan "wandi, kapanpun aku akan menungu jawaban iya dari kamu" sebagai bentuk pelampiasan kesedihan dia
"kenapa lu bawa aku kesini?" tanya gallerina
"tidak, ini buat nyemangatin kamu" jawab aku dgn tatapan mata yg tempting banget
tapi sepertinya dia tak merasa itu
dia meneteskan airmatanya saat menlihat itu
Flash back
"kita mustahil bersama, aku orang bellato bukan cora, harusnya kamu tau kan??" tanya wandi dgn penuh kesedihan
"tidak!! mau accretia pun aku akan milih kamu!!!" kata gallerina yang meneteskan air mata
lalu dgn penuh paksaan , dia memeluk wandi. tapi itu ditolak secara refleks sama wandi
"maafkan aku, aku terpaksa membunuh kamu demi aku" kata wandi yang meneteskan air mata dan mengeluarkan pedangnya
"DEATH. HACK!!!!" wandi mengayunkan pedangnya dgn kesedihan yang penuh, wajar saja meleset bahkan spadona yg berukir nama nya itu pun melayang ke dekat punggungnya karena hatinya sangat perih saat itu, dan bila tidak perih bahkan normal, gallerina bisa tewas hanya sekali terjang
"kaaaakkk!!!!" gallerina memeluk dia dgn kepedihan hati
"maafkan aku rina, biarlah aku tenang, pedangku pun tak mau menurut perintah aku" kata wandi dan memeluk dia dgn kesedihan hati
lalu dia pun pergi
"kakak, aku menungu jawaban mu" teriak gallerina dgn tangisan yang luar biasa keras
dan lalu diapun mengukir perkataan itu di tembok walau di sekitarnya dipenuhi ABA,
Flash Back End
"loh, kenapa kamu nangis ?" aku bertanya dgn polos
"aku teringat waktu itu" ia mengaku semuanya
seketika aku merasa udara yang kencang, lalu nafsu aku entah kenapa meningkat drastis, lalu aku entah kenapa refleks menyambar mulut gallerina dan mencium dia
lalu...
plak!
"ingat ya? yang boleh berlaku seperti itu cuma cowok aku, wandi, gak ada yg boleh seperti begitu dgn aku apalagi lu!" kesal si gallerina yang ku cium , lalu dia menampar aku lagi dan pergi dgn wajah penuh amarah
lalu semalaman disana akupun menangis , pertama kali aku ditolak mentah mentah
end
wahahahahhaha
susah mikirin nya, klo dibaca mengharukan bgt.
g sia sia deh w pake nama w ndri jadi salah satu pemeran disana
hehehehe
keknya w agak sotoy deh di episode ini :P
tapi gapapa deh
kek yg gw bilang di awalnya, ini g ada hubunganya di kejadian game RF online sesunguhnya, hanya fan story (maklum, aku ngerasa punya bakat sebagai pencerita,)
No comments:
Post a Comment